Ticker

6/recent/ticker-posts

Ketika Sektor Wisata Tak Kunjung Dibuka

Salah satu ikon wisata Kota Bogor, Tugu Kujang. (Foto: Dok. Bogor24.id)




Penulis: Aysha Salsabila
Editor: Donni Andriawan S.

BOGOR, Bogor24.id -- Kegiatan berwisata telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama beberapa tahun ke belakang. Bahkan berwisata juga diyakini telah menjadi gaya hidup dan kebutuhan.

Terlebih di masa pandemi saat ini, di mana orang-orang "dipaksa" untuk mengurangi aktifitas. Sehingga lebih banyak berdiam diri di rumah lantaran adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Maka tidak mengherankan bila banyak dari mereka yang sangat merindukan aktifitas yang satu ini. Tidak saja haus akan liburan, namun juga membutuhkan refreshing karena sudah bosan dengan kondisi pandemi dan memerlukan liburan untuk menyegarkan tubuh dan pikiran.

Meski di banyak daerah kini telah mengalami penurunan level PPKM, namun bukan berarti sektor pariwisata dan aktifitas di dalamnya sudah diizinkan untuk buka kembali. Pasalnya, pemerintah pusat dan pemerintah daerah masih belum mengizinkan beroperasi dengan pertimbangan kesehatan dan keselamatan.

Walau pun ada beberapa daerah di antaranya yang sudah mulai melakukan uji coba pembukaan destinasi wisata, tetapi sifatnya masih terbatas. Seperti syarat pengunjung yang harus sudah divaksin minimal dosis pertama, mengunduh aplikasi PeduliLindungi, masih dilarangnya anak-anak usia 12 tahun ke bawah hingga pembatasan jumlah pengunjung serta penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Oleh sebab itu, ketika level PPKM diturunkan dengan sejumlah kelonggaran yang diberikan pemerintah telah membuat sebagian orang langsung memanfaatkannya untuk berwisata. Walau masih terbatas di dalam kota dengan pilihan destinasi yang juga belum banyak.

Di sisi lain, para pengelola destinasi wisata pun melalui asosiasinya berharap agar pemerintah bisa mengizinkan mereka untuk kembali beroperasi. Desakan itu tidak lain berkaitan dengan masalah finansial dan kelangsungan hidup para pekerja di dalamnya. Hal ini dikarenakan sudah terlalu lamanya mereka menutup usahanya yang berimbas terhadap profitibilitas.

Bukan saja kerugian secara ekonomi yang harus mereka rasakan, namun juga aspek kemanusiaan lantaran melihat kondisi para karyawannya yang terpaksa harus dirumahkan sementara waktu hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Meski terbatas, para pengelola destinasi wisata sekali lagi berharap agar pemerintah bisa sesegera mungkin mengizinkan mereka untuk kembali beroperasi seperti halnya dengan pembukaan ritel-ritel modern. Dengan demikian, mereka masih memiliki asa untuk menyelamatkan aset benda dan sumber daya manusianya.

Posting Komentar

0 Komentar