Ticker

6/recent/ticker-posts

Cerita Pelaku UMKM Pinggiran Pertahankan Usaha, Gunakan Cara Ini dan Berharap Perhatian Pemerintah

(Foto: Dok. Bogor24.id)



Penulis: Aysha Salsabila
Editor: Donni Andriawan S.

BOGOR KOTA, Bogor24.id -- Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 resmi diperpanjang pemerintah hingga 16 Agustus mendatang, di mana aturan ini sudah mulai diterapkan sejak awal Juli lalu.

Dengan adanya kebijakan ini membuat sektor usaha terutama para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) semakin terpuruk dan kesulitan untuk menjalankan roda bisnisnya. Tidak sedikit bahkan di antara mereka yang akhirnya kalah oleh keadaan, namun ada pula yang masih tetap bertahan dengan berbagai strategi marketingnya.

Kondisi sulit ini disampaikan sejumlah pelaku UMKM kepada Bogor24.id, Selasa (10/8/2021), di mana mereka menceritakan bagaimana sulitnya untuk mempertahankan usaha sekaligus bertahan hidup di waktu yang bersamaan.

Para pelaku UMKM yang ditemui Bogor24.id ini memang kebanyakan adalah mereka yang berbisnis di sektor kuliner, karena rentannya usaha yang satu ini mengalami kerugian sebagai akibat komoditi mereka yang sangat riskan terbuang bila tidak habis dalam selama seharian. Ini tentu sangat berbeda dengan usaha nonkiliner yang tidak meemiliki kadaluarsa pada produknya.

Isna contohnya, pelaku UMKM yang menjual tahu goreng pedas di kawasan Kelurahan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor ini terpaksa mengurangi produksi per harinya lantaran sepinya pembeli. Langkah itu diambil untuk mengurangi risiko kerugian yang besar.


"Pokoknya selama PPKM ini penjualan turun drastis, tidak sampai 30 persen dibanding sebelum PPKM ada. Karena pembelinya memang sedikit belakangan ini. Makanya sekarang saya sedia stok tidak banyak, daripada nanti mubazir malah dibuang," ungkapnya.

Cerita serupa juga disampaikan Anita, pedagang makanan di wilayah Harjasari. Untuk mempertahankan bisnisnya, dia menyiasatinya dengan memberikan promo dan layanan antar kepada setiap pembelinya.

"Sudah beberapa bulan ini saya pakai cara promo lewat kenalan dan media sosial, meskipun persentasenya tidak terlalu besar. Selain itu, saya kasih promo dalam bentuk lain. Yaitu pesanan pelanggan kita antarkan ke rumahnya, tapi dengan radius jarak maksimal lima kilometer," paparnya.

Dengan berbagai kesulitan yang dihadapi sebagai dampak pandemi dan kebijakan PPKM, keduanya berharap agar Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor bisa memberikan perhatian dan bantuan. Mereka meminta agar tidak hanya kawasan pusat kota saja yang kerap mendapatkan perhatian dan bantuan, tapi meminta hal serupa agar dilakukan juga di wilayah-wilayah pinggiran yang jauh dari pusat pemerintahan.

"Coba para Aparatur Sipil Negara (ASN), aparatur di wilayah termasuk wali kota datang sesekali ke wilayah pinggiran, biar tahu dan lihat langsung bagaimana sebenarnya kondisi warga dan kami para pelaku UMKM ini bertahan hidup dengan segala kesulitan yang harus dihadapi. Jangan cuma borong dagangan pedagang di kota saja, kita juga mau seperti itu. Jadi tidak merasa dianaktirikan," terang Anita.

Posting Komentar

0 Komentar