Ticker

6/recent/ticker-posts

"Camping" dan Bertualang di Alam, Tren Gaya Hidup di Masa Pandemi


(Foto: Camping Gayatri)



Penulis: Aysaha Salsabila
Editor: Donni Andriawan S.

BOGOR, Bogor24.id -- Meskipun saat ini tengah berlangsung Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang sudah mulai berlaku sejak 3 Juli sampai 20 Juli mendatang, namun setidaknya momen ini bisa digunakan untuk mengistirahatkan diri di rumah sekaligus menyusun rencana untuk melakukan liburan di lain kesempatan.

Terlebih di masa pandemi yang berkepanjangan ini, tren orang untuk berlibur dengan pilihan destinasi alam terus meningkat setiap waktunya. Fenomena ini rasanya masih akan terus berlangsung selama beberapa waktu ke depan dan bahkan kecenderungannya akan semakin diminati terutama para penyuka petualangan.

Berbicara destinasi wisata alam atau sumber daya alam, di Kabupaten Bogor sendiri tak terhitung berapa banyak destinasi wisata alam yang menawarkan ragam keunggulannya. Mulai dari lokasi, panorama alam yang menawan, pilihan paket menginap yang lengkap hingga tawaran tarif yang sangat kompetitif.

Tidak sekadar camping dalam definisi yang sesungguhya, namun kini banyak pengelola destinasi wisata jenis ini yang menyediakan varian fasilitas yang lebih lengkap dengan menyasar segmen pasar lain yang lebih luas seperti kalangan keluarga misalnya. Yaitu dengan menyediakan glamour camping (glamping) dengan segala kemewahan fasilitas dan layanan layaknya menginap di hotel.

Soal yang satu ini, kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor masih tetap menjadi primadona para wisatawan untuk berlibur. Meskipun kini destinasi wisata alam yang ditawarkan di kawasan tersebut juga sudah banyak tersedia di sejumlah wilayah lainnya. Sebut di antaranya di Pancawati dan Sentul.

Kondisi pandemi disinyalir menjadi salah satu penyebab banyaknya pemodal yang melirik bisnis yang satu ini. Ditambah kesadaran orang yang kini lebih peduli akan masalah kesehatan, semakin menambah seksinya wisata alam seperti camping, glamping dan sejenisnya.

Hijaunya pemandangan, sejuknya udara dan indahnya panorama alam menjadi buruan para investor dan pelancong itu sendiri. Sehingga kemudian terciptalah simbiosis mutualisme antara keduanya, pihak-pihak yang saling membutuhkan, saling menopang dan saling mengisi.

Bagi para pemilik modal, mendirikan satu kawasan camping ground juga (mungkin) dianggap tidak merusak alam (ekosistem) setempat, sehingga dapat dikatakan lebih ramah lingkungan. Secara modal pun, rasanya tidak terlalu besar seperti halnya ketika membangun akomodasi mainstream seperti hotel misalnya.

Sementara bagi para wisatawan atau penyuka petualangan, tentunya hasrat dan keinginan mereka untuk mendapatkan sensasi bertualang di alam bisa didapatkan. Tinggal menyesuaikan dengan selera dan tentunya anggaran yang dimiliki. Apakah ingin benar-benar merasakan camping di tenda di area perkemahan atau ingin berkemah dengan opsi glamping layaknya menginap di hotel.

Namun yang jelas fenomena ini telah menjadi gaya hidup masyarakat, terutama kaum urban dan kalangan milenial yang memang sangat menginginkan wisata antimainstream atas dorongan hasrat, minat dan ketertarikan mereka untuk bisa mendapatkan sensasi petualangan yang berbeda.

Posting Komentar

0 Komentar