Ticker

6/recent/ticker-posts

Dampak Pasokan Mati, Pelanggan Tirta Pakuan Tembus Hujan Angkut Air

Di tengah guyuran hujan malam hari warga terpaksa mengangkut air dari berbagai sumber untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya lantaran pasokan air Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor yang mati, Rabu (19/5/2021) malam. (Foto: Yuda Muhtar/Bogor24.id)



Penulis: Yuda Muhtar
Editor: Donni Andriawan S.

HARJASARI, Bogor24.id - Matinya pasokan air Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor yang diakibatkan adanya kebocoran pipa ACP 21" di Jalan Arteri Bocimi, Cikalang, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, berdampak luas kepada para pelanggan yang berada di zona 1.

Tidak saja warga kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, gangguan itu pun berdampak terhadap biaya tambahan yang harus dikeluarkan. Di antaranya untuk membeli air isi ulang galon, upah untuk mengangkut air hingga uang jasa pijat.

Bahkan, di tengah kondisi hujan dan waktu yang beranjak malam membuat mereka harus melupakan waktu berisitirahat lantaran harus mencari pasokan air. Sementara menunggu datangnya truk tangki air milik Perumda Tirta Pakuan bukan waktu yang sebentar.

Herni contohnya. Pelanggan yang tinggal di salah satu klaster di Perumahan Pakuan Hill mengaku terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk memberikan upah kepada dua orang yang membantunya mengangkut air.

"Ya, terpaksa kita mesti keluarin uang tambahan buat bayar orang bantuin ambil air ke rumah. Nunggu suami takut kemalaman, karena masih kerja juga belum pulang," ujarnya.

Keluhan senada disampaikan Suardi, warga yang tinggal di Kelurahan Harjasari. Dengan kondisi tubuh yang sudah lelah sepulang bekerja terpaksa harus mengangkut air dari rumah tetangganya yang memiliki sumur.

"Kalau sudah begini jadi dongkol sama PDAM. Kerusakan atau gangguan kok sering banget ya. Apa iya dari waktu ke waktu nggak ada kemajuan dalam hal pelayanannya kepada pelanggan. Ini judulnya harus manggil tukang pijit biar badan besok fit lagi kerja," katanya.

Masih dari Kelurahan Harjasari, Rahmat Sukendar yang tinggal di Kampung Girangsari RT 002/008 bahkan terpaksa menerobos derasnya guyuran hujan untuk mengangkut seember demi seember air dari toilet mushola di wilayahnya untuk mengisi sejumlah bak mandi di rumahnya.

"Orang-orang mah pada enak jam segini udah tidur, kita masih harus 'olahraga' ngangkutin air. Tadi juga Pak RT udah minta dikirimkan truk tangki ke sini, tapi katanya malah ke perumahan-perumahan dulu kayak ke Pakuan Hill sama Royal Tajur. Apa karena kita pelanggan di kampung ya jadi dianaktirikan," ketusnya seraya menambahkan ketika giliran pelanggan telat membayar tagihan rekeningnya langsung mendapatkan ancaman akan diputus jaringannya.

Posting Komentar

0 Komentar