Ticker

6/recent/ticker-posts

Curahan Hati Pengusaha Angkot di Tengah Terpuruknya Kondisi Ekonomi

Ilustrasi angkot yang beroperasi di Kota Bogor. (Foto: Dok. Bogor24.id)



Penulis: Aysha Salsabila
Editor: Donni Andriawan S.

BOGOR KOTA, Bogor24.id - Beratnya persaingan bisnis angkutan kota (angkot) di Kota Bogor sudah terasa sejak beberapa tahun ke belakang. Khususnya semenjak maraknya angkutan berbasis aplikasi (online) hadir di Kota Bogor.

Usaha di sektor ini semakin terpuruk ketika pandemi Covid-19 melanda setahun lalu. Adanya kebijakan soal aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), bekerja dari rumah (work from home), sekolah daring sampai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro turut andil "menjatuhkan" bisnis transportasi kelas menengah bawah ini.

Tidak sedikit dari para juragan angkot ini gulung tikar dan menjual asetnya demi menyambung hidup di tengah ketidakpastian ekonomi. Pun dengan para pengemudi angkotnya yang ikut menjadi korban lantaran ketiadaan armada untuk mencari nafkahnya akibat dijual oleh para bosnya. Kalaupun ada yang masih narik, mereka kesulitan untuk mendapatkan setoran dan pendapatan.

Cerita di atas setidaknya hasil dari curahan hati juragan angkot yang ditemui Bogor24.id, Senin (24/5/2021). Mereka mengaku baru beberapa bulan ini bisa sedikit bangkit dari keterpurukan, meski bisa dikatakan jauh dari kondisi normal.

"Kita berjuang sendirian tanpa ada campur tangan atau bantuan dari pemerintah layaknya pengusaha atau pelaku UMKM bahkan para pebisnis kelas kakap seperti pemilik hotel-hotel berbintang yang bisa mendapatkan bermacam bantuan. Sementara kita-kita ini Alhamdulillah tidak sedikit pun," ungkap Suhandi, pengusaha angkot di Bogor Selatan.

Padahal, katanya, ia harus tetap mempertahankan bisnisnya itu karena melihat tenaga kerja (pengemudi angkotnya) yang jumlahnya hingga mencapai delapan orang. Di sisi lain, dirinya harus terus membayar cicilan kredit angkotnya kepada lembaga pembiayaan.

"Bisa dibayangkan sulitnya kondisi saya setahun kemarin. Walau terpaksa harus menjual tiga angkot untuk bertahan hidup, tapi setidaknya saya tidak sampai merumahkan atau bahkan memberhentikan para sopir. Kasihan mereka, karena dari mana lagi bisa cari uang di tengah kondisi serba sulit ini," paparnya.

Meski begitu, dirinya bersyukur masih bisa tetap eksis di tengah keterbatasan di bisnis yang telah digelutinya selama 20 tahun terakhir. Paling tidak, sambungnya, ia masih mampu mempertahankan usahanya dan tetap memberikan peluang pekerjaan kepada para sopirnya.

"Hanya saja saya mengingatkan dan berpesan kepada pemerintah supaya memberikan perlakuan yang sama kepada semua pengusaha, termasuk saya di usaha angkot ini. Jangan hanya pelaku UMKM, pelaku pariwisata sampai pengusaha hotel yang malah dapat bantuan. Tapi, kami ini justru malah tidak diperhatikan," tutup Suhandi.

Setidaknya, kata Pupu pemilik angkot lainnya, pemerintah bisa mempunyai sedikit saja rasa kepedulian dan perhatian kepada mereka. Sebab, imbuhnya, walau bagaimana pun tidak sedikit kontribusi diberikan seperti melalui pembayaran pajak kendaraan dan pembayaran uji laik jalan.

"Paling tidak lihatlah kontribusi yang sudah kita berikan untuk pemerintah, meskipun mungkin nilainya tidak besar. Kami ini meski kesulitan tetap berusaha untuk tepat waktu membayar pajak dan mengikuti KIR (uji laik jalan)," ucapnya.

Posting Komentar

0 Komentar